Global Warming, Bom Waktu Peradaban Bumi

Satu frase saja, global warming. Istilah yang makin hari makin familiar di telinga kita. Kita dapat dengan mudah menemukan istilah itu di sana-sini, di segala macam media informasi, baik itu radio, televisi, surat kabar, majalah, dan sebagainya. Hampir setiap hari dapat kita temui istilah itu. Organisasia-organisasi dunia pun marak memprbincangkan masalah ini. Apakah sesungguhnya global warming itu?

Secara harfiah, global berarti sedunia, secara umum atau keseluruhan, sedangkan warming berarti proses pemanasan yang sedang berlangsung, jadi dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari istilah global warming secara word by word atau harfiah adalah suatu proses pemanasan yang tengah berlangsung sedunia.

Global warming dapat disebabkan oleh akumulasi dari macam-macam emisi gas buangan yang disebut dengan greenhouse gases di atmosfer.Golongan greenhouse gases atau gas rumah kaca ini terdiri dari gas karbondioksida, metana, nitrogen oksida, sulfur oksida, dan sejenisnya. Gas-gas ini merupakan gas emisi dari pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, solar, dan batubara yang dilakukan oleh manusia dengan mesin-mesin yang kurang ramah lingkungan sehingga emisi gas buangannya mengandung greenhouse gases.

Proses global warming sendiri tidak lepas dari revolusi industri dan efek rumah kaca. Pada masa-masa sebelum revolusi industri dunia, gas di atmosfer terbilang masih relatif bersih dengan kadar CO2 yang masih dalam batas normal. Tapi lama-kelamaan setelah terjadi revolusi industri dan kemajuan teknologi yang makin pesat, mesin-mesin mulai diciptakan dan makin hari, makin banyak mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Memang, kemudahan hidup manusia berkat mesin-mesin itu sangatlah banyak. Contohnya untuk mesin-mesin kendaraan yang memudahkan kita bepergian, mesin-mesin produksi di pabrik, dan mesin-mesin lainnya. Namun ketika mesin-mesin tersebut digunakan, butuh sumber energi dari bahan bakar fosil untuk pembakaran. Ada pembakaran, tentunya ada energi yang dihasilkan sekaligus hasil sampingannya, yaitu gas-gas buangan yang sebagian besar tersusun dari greenhouse gases yang telah disebutkan sebelumnya. Dari mesin-mesin yang jumlahnya sangat banyak tersebut masing-masing menghasilkan greenhouse gases yang dilepaskan ke atmosfer, lama kelamaan gas-gas tersebut akan terakumulasi dalam jumlah yang sangat banyak di atmosfer bumi. Akumulasi dari gas-gas yang bersifat memantulkan panas itu menyebabkan bumi mengalami suatu efek yang disebut efek rumah kaca atau greenhouse gases.

Efek rumah kaca ini terjadi saat panas matahari yang mencapai bumi dipantulkan kembali ke atmosfer untuk diteruskan ke ruang angkasa namun oleh akumulasi greenhouse gases justru dipantulkan kembali ke bumi dan ini terjadi berulang-ulang sehingga hasilnya adalah suhu udara di bumi bertambah panas seperti yang terjadi di dalam rumah kaca yang digunakan sebagai sarana pembiakan tanaman. Bertambahnya suhu bumi inilah yang sering kita kenal dengan istilah ”Global Warming”. Efek rumah kaca ini semakin diperparah dengan terus bertambahnya akumulasi greenhouse gases di atmosfer bumi karena pepohonan yang berfungsi menyerap CO atau karbondioksida yang merupakan komponen utama greenhouse gases jumlahnya semakin sedikit akibat perusakan hutan, penebangan pohon untuk mendirikan bangunan, ilegal logging, ladang berpindah, dan sebagainya.

Dapat kita bayangkan seandainya bumi yang kita jadikan tempat tinggal satu-satunya ini lambat laun terpanaskan oleh global warming. Efek yang paling signifikan yang dapat diamati saat ini adalah melelehnya lapisan-lapisan es yang ada di permukaan bumi. Lapisan-lapisan es di puncak-puncak gunung dan di kutub berkurang drastis. Lelehan es tersebut mengalir ke laut sehingga permukaan air laut naik sedikit demi sedikit. Perkembangan terakhir mengenai naiknya permukaan air laut ini adalah 0,6 meter tiap tahunnya. Jika setiap tahunnya permukaan air laut bertambah tinggi sebanyak 0,6 meter sedangkan permukaan bumi yang tertinggi adalah sekitar delapan ribu meter. Melihat fakta-fakta tersebut, dapat kita perkirakan apa yang mungkin terjadi pada perdaban dan tempat tinggal anak cucu kita beberapa ratus tahun mendatang atau bahkan beberapa puluh tahun mendatang. Apakah kita hanya akan tinggal diam?

Tentu saja tidak. Kita harus menempuh suatu cara untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi akibat dari global warming ini. Cara yang paling mudah adalah dengan mengurangi akumulasi dari greenhouse gases di atmosfer bumi dengan memperbanyak penyerapnya, yaitu pepohonan. Pemerintah Indonesia pun telah mencanangkan program ”Tanam Seribu Pohon” dan perbaikan hutan sebagai wujud nyata dari usaha untuk mengurangi efek rumah kaca ini. Hanya dengan berpartisipasi menyumbangkan satu pohon untuk selanjutnya ditanam, kita telah berpartisipasi menghentikan detak bom waktu yang bisa menghancurkan perdaban bumi.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.